Soal Tes Bidan Masuk Rumah Sakit Di jamin Lulus

1 comment 20682 views

Soal Tes Bidan Masuk Rumah Sakit Di jamin Lulus – Kesempatan kali ini infoapa.com akan membagikan sebuah informasi mengenai Soal Tes Masuk Rumah Sakit Buat bidan, kisi-kisi sebuah soal atau beberapa pertanyaan yang sering di pertanyakan oleh pihak rumah sakit.

Yang Harus teman-teman inget kisi-kisi soal tes tulis di Rumah Sakit. tentu saja akan berbeda pertanyaan nya apabila teman-teman tes di Klinik atau Puskesmas. Mari simak dengan baik ya teman-teman pertanyaan yang sering dipertanyakan saat tes tulis ataupun wawancara adalah………

Soal Tes Bidan Masuk Rumah Sakit Di jamin Lulus

Soal Tes Bidan Masuk Rumah Sakit Di jamin Lulus

1. Hapalkan Mengenai Definisi Managemen Kebidanan

Pengertian manajemen kebidanan ialah suatu pemecahan masalah yang di pergunakan sebagai salah satu methode untuk mengorganisasikan pikiran serta tindakan yang berdasarkan atas teori ilmiah, penemuan-penemuan, sebuah keterampilan dalam tahapan yang akurat untuk melakukan pengambilan sebuah keputusan yang berfokus terhadap klien (Varney,2004)

2. Hapalkan Mengenai 7 langkah Varney

» Langkah 1 : Pengkajian

Pada langkah awal ini bidan mengumpulkan seluruh informasi yang komplit & akurat dari seluruh sumber yang berhungan dengan kondisi klien, untuk memperoleh beberapa data dapat dilakukan dengan cara :

a. Melakukan Anamnesa

b. Melakukan pemeriksaan fisik sesuai dengan kebutuhan & pemeriksaan tanda-tanda vital

c. Melakukan pemeriksaan khusus

d. Melakukan pemeriksaan penunjang

Apabila klien mengalami adanya komplikasi yang perlu dikonsultasikan pada dokter dalam melakukan penatalaksanaan maka bidan harus melakukan konsultasi atau kolaborasi bersama dokter. Tahap ini menjadi langkah awal yg nantinya akan sangat mempengaruhi untuk menentukan langkah berikutnya, maka perlu dilakukan kelengkapan data sesuai dengan kasus yang ditemui akan menentukan proses interpretasi yang benar atau tidaknya dalam tahap selanjutnya, maka dalam tahap pendekatan ini mesti yg komprehensif meliputi dari data subjektif, objektif & hasil pemeriksaan sehingga dapat menggambarkan kondisi / masukan dari klien yg sebenarnya & valid. Kaji ulang data yang telah diperoleh apakah telah sesuai, lengkap serta akurat.

» Langkah II : Merumuskan Diagnosa Atau Masalah Kebidanan

Pada langkah Kedua ini identifikasi pada masalah atau diagnose berdasarkan interpretasi yg benar-benar akurat atas data-data yg telah dikumpulkan. Data basic yg telah dapat dikumpulkan di interpretasikan maka nantinya dapat merumuskan diagnosa & masalah yg spesifik. Rumusan diagnosa & masalah keduanya sangat diperlukan di karenakan masalah tak bisa di definisikan seperti pada diagnosa namun tetap membutuhkan sebuah penanganan. Masalah juga sering berhubungan dengan beberapa hal yang sedang dialami pada wanita yg telah di identifikasikan oleh bidan sesuai dengan hasil yang di dapat dari pengkajian. Masalah pula sering berhubungan dengan diagnosa. Diagnosa kebidanan yaitu diagnosa yg di tegakkan bidan dalam ruang lingkup praktik kebidanan & memenuhi sesuai standar nomenklatur diagnosa kebidanan.

» Langkah III : Mengantisipasi Diagnosa Atau Masalah Kebidanan

Pada langkah ketiga ini mengidentifikasi adanya masalah potensial atau diagnosa potensial berdasarkan adanya diagnosa/masalah yg telah diidentifikasi. Langkah ini sangat membutuhkan antisipasi, apabila memungkinkan perlu dilakukan pencegahan. Pada langkah ini seorang bidan dituntut agar dapat berantisipasi adanya masalah potensial tidak cuma untuk merumuskan masalah potensial yg akan nantinya terjadi namun juga dapat merumuskan tindakan antisipasi supaya masalah atau diagnosa potesial tidak dapat terjadi

» Langkah IV : Menetapkan Kebutuhan Tindakan Segera

Pada langkah yang ke empat ini perlunya mengidentifikasi adanya tindakan segera oleh bidan & dokter atau perlu untuk dikonsultasikan atau di tangani bersama-sama dengan anggota tim kesehatan lainnya sesuai dengan kondisi klien. Langkah ini sangat mencerminkan kesinambungan dari proses penatalaksanaan kebidanan. Sehingga penatalaksanaan bukan hanya dilakukan selama asuhan primer periodik ataupun kunjungan prenatal saja namun juga selama wanita tersebut bersama bidan saat itu.

Dari penjelasan yg telah diulas diatas dapat menunjukkan bahwa seorang bidan dalam melakukan tindakan mesti sesuai dengan prioritas masalah dan kebutuhan yg sedang dihadapi kliennya. Sesudah seorang bidan dapat untuk merumuskan suatu tindakan yg nanti mesti di lakukan untuk dapat mengantisipasi diagnosa ataupun adanya masalah potensial pada langkah sebelumnya, bidan pula harus merumuskan tindakan emergency untuk segera ditangani baik pada ibu ataupun bayinya. Dalam perumusan ini termasuk tindakan cepat yg mesti dilakukan secara mandiri, kolaborasi atau yg bersifat rujukan.

» Langkah V : Merencana Asuhan Secara Menyeluruh

Pada langkah kelima ini perlu di rencanakan asuhan yang menyeluruh yg ditentukan dari beberapa langkah sebelumnya. Langkah ini merupakan kelanjutan dari penatalaksanaan pada masalah atau diagnosa yg sudah bisa teridentifikasi atau diantisipasi. Pada langkah ini informasi data yg sebelumnya tidak lengkap bisa di lengkapi. Ide asuhan yang menyeluruh tidak cuma meliputi dari apa yg telah berhasil teridentifikasi dari kondisi klien atau dari adanya masalah yang terkait namun juga dari adanya krangka pedoman antisipasi terhadap wanita tersebut seperti apa yg telah diperkirakan akan terjadi berikutnya, apakah perlu dibutuhkan suatu penyuluhan konseling & apakah mungkin butuh merujuk klien jika ada masalah-masalah yg menyangkut dengan factor sosial ekonomi-kultural atau masalah psikologi.

Setiap akan adanya rencana asuhan nantinya harus bisa disepakati oleh kedua belah pihak, diantaranya bidan serta klien agar dapat dilaksanakan dengan lebih efektif sebab klien juga dapat melaksanakan rencana tersebut. Semua keputusan yg telah dikembangkan dalam asuhan menyeluruh ini mesti harus rasional & memang benar-benar valid berdasarkan pengetahuan & teori yg telah ter up to date juga sesuai dengan asumsi tentang apa yg mungkin dapat dilakukan oleh klien.

» Langkah VI : Implementasi

Dalam langkah ini merupakan suatu konsep asuhan yang menyeluruh seperti apa yang telah berhasil diuraikan pada langkah ke lima di laksanakan dengan aman & efisien. Perencanaan ini dibuat serta dilaksanakan semua oleh bidan atau sebagian lagi bisa dilaksanakan oleh klien atau anggota tim kesehatan lainnya. walau bidan tidak melakukannya sendiri, bidan tetap saja bertanggung jawab untuk mengarahkan dalam pelaksanaannya. Dalam suatu kondisi dimana bidan berkolaborasi bersama dokter untuk menangani klien yg mengalami adanya komplikasi, sehingga keterlibatan bidan dalam melakukan penatalaksanaan asuhan bagi klien ialah tetap bertanggung jawab pada terlaksananya suatu rencana asuhan bersama yg menyeluruh tersebut.

» Langkah VII : Evaluasi

Dalam Langkah ini dilakukan adanya evaluasi keefektifan yang berasal dari asuhan yang telah diberikan meliputi pemenuhan kebutuhan akan bantuan apakah memang benar-benar sudah terpenuhi sesuai dengan kebutuhan sebagaimana telah d lakukan identifikasidi dalam diagnosa & masalah. Rencana itu akan dianggap efektif jika telah benar-benar efektif dalam pelaksanaannya.

Beberapa langkah proses penatalaksanaan umumnya adalah pengkajian yg memperjelas proses pemikiran yg mempengaruhi suatu tindakan serta berorientasi pada proses klinis, lantaran proses penatalaksanaan itu berlangsung di dalam situasi klinik & dua langkah selanjutnya atau terakhir tergantung pada klien & situasi klinik

3. Hapalkan Mengenai Definisi APD (Alat Pelindung Diri) dan tujuan serta sebutkan beberapa jenisnya!

» Definisi APD (Alat Pelindung Diri)

Alat Pelindung Diri  ialah berupa alat yang pada umumnya di pergunakan oleh para tenaga kerja agar dapat melindungi seluruh atau sebagian anggota tubuhnya terhadap resiko atau kemungkinan terjadinya suatu potensi bahaya akibat kecelakaan kerja. Alat pelindung diri umumnya di pergunakan sebagai usaha terakhir dalam mencegah dan melindungi tenaga kerja jika usaha rekayasa (engineering) dan administratif tidak dapat dilakukan secara baik. APD juga adalah sebuah kelengkapan yang wajib di gunakan ketika dalam kondisi sedang bekerja sesuai kebutuhan untuk menjaga keselamatan.

»  Tujuan penggunaan APD (Alat Pelindung Diri)

Penggunaan APD bertujuan melindungi kulit & selaput lendir petugas dari adanya risiko pajanan darah , semua jenis cairan tubuh , dan kulit yang tidak utuh serta selaput lendir pasien serta sekret.

» Jenis Alat Pelindung Diri

a. Sarung Tangan

b. Masker

c. Sepatu Karet Atau Bot

d. Baju Kerja / Celemek / Skort

e. Kaca Mata atau Pelindung Wajah

f. Topi

4. Hapalkan Mengenai Alur Rawat Inap dan Rawat Jalan

» Alur Rawat inap

a. Registrasi

1) Pasien Lama

Langsung menyerahkan kartu berobat kepada petugas yang ada di pendaftaran

2) Pasien Baru

√ Menunjukkan kartu identitas yg berlaku (KTP, SIM, paspor, card pelajar) kepada petugas yang ada di pendaftaran

√ Lalu isi form identitas pendaftaran pasien baru

3) Self Registration/registrasi mandiri

√ Khusus untuk pasien lama yg telah memiliki barcode card

√ Gesek kartu berobat

b. Klinik yang akan dituju

c. Pemeriksaan ( Apabila dibutuhkan pemeriksaan diagnostik, maka nanti petugas akan mengatur mengenai tata caranya)

d. Daftar rawat Inap

c. Melakukan administrasi Rawat Inap

d. Masuk Ruang Rawat Inap

e. Pemberian program therapy awal (pemberian cairan dan nutrisi)

f. Melakukan pelaksanaan anamnesa & pemeriksaan lanjut serta penunjang

g. Keluhan bisa berkurang/hilang & bisa bertambah parah

h. Melakukan Administrasi rawat inap

h. Pulang atau Dirujuk

» Alur Rawat Jalan

a. Registrasi

1) Pasien Lama

» Menyerahkan kartu berobat ke petugas yang ada di pendaftaran

» Memilih dokter sesuai keinginan klien

2) Pasien Baru

» Harus menunjukkan kartu identitas yg berlaku (KTP, SIM, paspor, card pelajar) kepada petugas yang ada di pendaftaran

» Kamu isi form identitas pasien baru

» Memilih dokter sesuai keinginan anda

3) Self Registration/registrasi mandiri

» Khusus untuk pasien lama yg telah mempunyai barcode card

» Gesek kartu berobat

» Ikuti prosedur komputer setelah itu, anda akan akan Memilih dokter sesuai keinginan anda

b. Menunggu antrian diruang tunggu dokter yg dipilih sampai di panggil

c. Pelayanan medis oleh dokter yg telah dipilih

d. Apabila dibutuhkan pemeriksaan diagnostik, nanti petugas akan mengatur mengenai tata caranya

e. Pelaksanaan pemeriksaan penunjang yg dibutuhkan sesuai dengan instruksi dokter.

d. Membayar administrasi di kasir

e. Menunggu penyediaan obat di bagian Farmasi

f. Pulang

5. Hapalkan beberapa nama alat kesehatan yg terdapat dalam Instrumen Hecting-Set, Parteus-Set, Curretage-set.

» Hecting-Set

a. Pean bengkok 14cm ( 1 Pcs )

b. Instrument Bak 508 ( 1 Pcs )

c. Gunting Iris bengkok 11cm ( 1 Pcs )

d. Handle Scalpel no.3 ( 1 Pcs )

e. Cutgut Plain 3/0, 150cm ( 1 Pcs )

f. Nierbeken Plastik 20cm ( 1 Pcs )

g. Pincet chirugis 14cm ( 1 Pcs )

h. Klem arteri lurus 14cm/kocker ( 1

i. Jarum jahit kombinasi ( 1 Pak/12 Pcs )

j. Pisau bedah no.15, 11 ( 4 Pcs ) Pcs )

i. needle holder 14cm ( 1 Pcs )
k . Pean lurus 14cm ( 1 Pcs )
e. Gunting oprasi lurus 14cm ta/tu ( 1 Pcs )

m. Pincet Anatomis 14cm ( 1 Pcs )

» Parteus-Set

a. Gunting tali pusat

b. 2 klem Kelly/ klem kocher

c. Klem 1⁄2 kocher

d. 2 pasang sarung tangan

e. Benang tali pusat / klem plastic

f. Tabung suntik 2,5 atau 3 ml

g. Penghisap lendir De Lee

h. Kateter nelaton

i. Gunting episiotomi

j. Kasa atau kain kecil 5 bh

k. Gulungan kapas basah (1 kom kapas kapas DTT, 1 kom alat DTT)

» Curretage-set

a. Speculum sim

b. Tampon tang

c. Abortus tang

d. Sonde uterus

e. Tenaculum

f. Pinset anatomis panjang

g. Sendok kuret tajam dan tumpul M

6. Hapalkan beberapa hal yang menyangkut Sectio Caesaria (SC), misalnya Pengertian, Faktor Indikasi SC, dan jenis SC)

» Pengertian

Sectio caesaria merupakan suatu jenis persalinan buatan dimana janin dilahirkan dengan cara melakukan sebuah insisi pada dinding depan perut & dinding rahim dengan syarat rahim dalam kondisi atau dalam keadaan utuh serta berat janin diatas 500 gram (Sarwono, 2009)

» Faktor Indikasi SC

a. Chepalo Pelvik Disproportion (CPD)

b. KPD (Ketuban Pecah Dini)

c. Faktor Hambatan Jalan Lahir ( kista ovarium, mioma uteri dan sebagainya )

d. Memiliki Hipertensi/Jantung

e. PEB (Pre-Eklamsi Berat)

f. Riwayat SC

g. Letak Janin\

» Jenis – jenis SC

a. Sectio cesaria transperitonealis profunda

Dengan melakukan teknik insisi pada segmen bawah uterus. insisi pada bawah rahim, dapat dengan menggunakan teknik melintang atau memanjang. Keunggulan pembedahan ini sebagai berikut :

1) Pendarahan luka insisi tak seberapa banyak.

2) Bahaya peritonitis tidak besar.

3) Perut uterus umumnya kuat sehingga nantinya bahaya ruptur uteri di kemudian hari tidak besar dikarenakan terhadap nifas segmen bawah uterus tidak seberapa banyak mengalami kontraksi seperti korpus uteri sehingga nantinya luka bisa sembuh secara lebih sempurna.

b. Sectio cacaria klasik atau section cecaria korporal

Pada teknik cectio cacaria klasik ini di untuk pada korpus uteri, pembedahan ini yg sedikit mudah dilakukan,hanya dilakukan apabila terjadi hambatan dalam melakukan section cacaria transperitonealis profunda. Dilakukan Insisi memanjang pada segmen atas uterus.

c. Sectio cacaria ekstra peritoneal

Tindakan ini dulunya dilakukan agar mengurangi bahaya injeksi perporal namun dengan adanya kemajuan pengobatan pada injeksi pembedahan ini sekarng sudah tidak banyak lagi di lakukan. Rongga peritoneum tidak di buka, teknik ini dilakukan pada pasien infeksi uterin berat.

d. Section cesaria Hysteroctomi

Setelah sectio cesaria, dilakukan hysteroktomy dengan beberapa indikasi :

1) Plasenta accrete

3) Myoma uteri

2) Atonia uteri

4) Infeksi intra uteri berat

7. Hapalkan Rumus dalam menghitung tetesan infus & Tempat lokasi pemasangan infus

» Rumus Menghitung Tetesan Infuse

Yang butuh teman-teman ingat yaitu mengenai factor tetes (FT) MIKRO = 60 MAKRO = 20

√ Rumus bila ingin mengetahui TETES/MENIT?

   Volume x FT  
Jam x 60 menit

√ Rumus jika ingin mengetahui Lamanya dalam JAM?

                    Volume x FT                  
Tetesan yg ditentukan x 60 menit

√ Rumus jika ingin mengetahui VOLUME?

Jam x Tetesan yg ditentukan x 60 menit
Faktor Tetes (FT)

Sample kasus :

Tn.H usia 54 thn dengan diagnose DHF, Tn.H memperoleh therpycairan infus NaCl 0,9% 2000 ml/ 24 jam (makro). Berapakah tetes/menit cairan yg diberikan pada Tn. H?
Jawab :

2000 ml x 20
24 jam x 60m         =    = 27,7

Jadi jumlah cairan infuse di berikan ialah 27,7 tetes/menit (rata rata di bulatkan menjadi 28).
Dari 1 sampel kasus diatas kita bisa belajar mengenai rumus dalam mencari lamanya JAM & VOLUME. Kita tinggal memasukkan sesuai rumus yg ada di atas.

» lokasi pemasangan infus

Tempat atau lokasi vena perifer yang biayanya sering digunakan dalam pemasangan infus ialah vena supervisial/perifer kutan berada di dalam fasia subcutan & merupakan akses paling mudah untuk dilakukan therapy intaravena. Daerah tempat infus yg memungkinkan ialah permukaan dorsal tangan (Vena supervisial dorsal, vena sefalika serta vena basalika,), lengan bagian dalam (vena basalika, vena kubital median, vena sefalika, vena median lengan bawah, & vena radialis), permukaan dorsal (Vena safena magna, ramus dorsalis). ( Perry dan Potter 2005)

8. Hapalkan Kala I, II, III dan IV

9. Hapalkan Penyebab terjadinya Perdarahan pre-partum, intra partum dan post partum.

10. Hapalkan Menghitung Taksiran Persalinan (TP)

11. Hapalkan Menghitung usia kehamilan

12. Sebutkan 7T dalam pemeriksaan ante-natalcare

author
One Response
  1. Soal Tes Tulis Masuk Rumah Sakit | Askep331 year ago

    […] »» Lihat Pertanyaan Tes Wawancara Rumah Sakit Yang Sering Muncul […]

    Reply

Leave a reply "Soal Tes Bidan Masuk Rumah Sakit Di jamin Lulus"